Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

wibiya widget

My Blog List

flag counter

daftar menu

Loading...
Tag this on nabtag

twiter

Recent Comments

google seacrh


  • Web
  • alwafaalmuttaqiin
  • buku tamu

    google translite


    clock

    Voting

    My Ballot Box
    Bagaimana Menurutmu blog ku ni ?







    wibiya widget

    Jumat, 08 Juni 2012

    PENTINGNYA KISAH AL-QUR'AN DAN HADIS

    Kisah terbaik adalah kisah-kisah Al-Qur'an yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu." (QS. Yusuf: 3). Dan kisah-kisah dari hadis nabawi berada setelah urutan kisah-kisah Al-Qur'an. 

    Banyak orang yang terbiasa membaca kisah hanya untuk hiburan dan kenikmatan sesaat, karena mereka hanya mengetahui bahwa mayoritas kisah-kisah bukanlah wujud dari realita, semata-mata karangan dan imajinasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kisah yang tidak mungkin terjadi, seperti kisah khayalan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadiannya. Kisah-kisah rakyat yang diceritakan dari orang-orang terdahulu, khususnya orang-orang Romawi dan Persia, termasuk di dalam kisah model ini, sering disebut dengan kisah takhayul. Termasuk dalam hal ini juga adalah kisah seribu satu malam. Di kalangan orang-orang Arab ada kisah Antarah dan kisah Abu Zaid Al-Hilali. Kisah seperti ini masih mempunyai keberadaan yang kuat pada masa kini. Penulis saat ini telah menemukan apa yang dinamakan dengan khayalan ilmiah, si penulis membayangkan sesuatu yang bisa dicapai oleh manusia pada masa yang akan datang dan memaparkan keadaan manusia pada waktu itu. 

    Kisah-kisah di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shalih, semuanya adalah kebenaran dan kejujuran. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi tanpa dikurangi dan ditambahi. "Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya." (QS. Al-Kahfi: 13). "Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar." (QS. Ali Imran: 62). Kisah bukanlah suatu kebenaran kecuali jika ia disampaikan oleh penyampai tanpa tambahan di dalamnya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersucikan dari dusta. Maka, tidak mungkin Dia menceritakan kisah yang tidak terjadi. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia menyaksikan dan melihat. Oleh karena itu, ketika Dia menyampaikan kisah kepada kita, maka Dia menyampaikan dengan ilmu sebagai Dzat yang menyaksikan dan melihat. "Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (QS. Al-A'raf: 7) 

    Jikalau manusia meyakini bahwa kisah-kisah Al-Qur'an yang disampaikan kepada mereka dan kisah-kisah dari hadis Rasul yang sampai kepada mereka, semuanya adalah benar dan jujur, maka ia akan mempunyai pengaruh besar dalam meluruskan jiwa mereka. Ia bisa mengatur tabiat mereka dengan mengambil nasihat- nasihat dan pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah tersebut. 

    Allah telah memerintahkan Rasul-Nya agar menyampaikan kisah-kisah yang diketahuinya kepada manusia, agar mereka merenungkan keadaan orang- orang yang telah berlalu, lalu mereka mengukur diri dengan mereka dan mengambil pelajaran untuk diri mereka. Jika mereka adalah orang-orang dzalim, maka mereka menjauhi jalan hidup mereka. Dan jika mereka adalah orang-orang baik, maka mereka harus diteladani. "Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf: 176). "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran orang- orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah berita yang dibuat-buat." (QS. Yusuf: 111) 

    Para Rasul dan para dai mengambil pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu. Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis nabawi masih dan selalu menjadi bekal yang menyirami jiwa dan meneguhkan hati. Sebagaimana firman Allah, "Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Hud: 120). Kehidupan manusia di muka bumi mempunyai kemiripan dalam kelurusan dan penyimpangannya. Contoh-contoh kemanusiaan, baik yang lurus maupun yang serong, adalah contoh-contoh yang berulang. Oleh karena itu, Al-Qur'anul Karim dan hadis nabawi, kedua-duanya memberikan kepada kita berita-berita di mana kita mendapati diri kita di dalamnya atau mendapati padanya orang-orang di sekeliling kita. Seolah-olah nash-nash itu di samping menceritakan kisah fulan juga menyampaikan kepada kita tentang ujian yang kita rasakan atau kemakmuran yang kita enyam atau ia menyampaikan kepada kita tentang pemimpin yang adil yang hidup di antara kita atau pemimpin yang congkak lagi lalim yang mondar- mandir sebagai perusak di bumi. Kadang ia menyampaikan kepada kita tentang kisah kemanusiaan yang biasa. Bisa jadi yang dibahas adalah seorang petani yang shalih, atau pedagang yang jujur dan amanah, atau seorang manusia yang penuh kasih sayang. Contoh ini bisa kita lihat pada seorang petani kenalan kita atau pedagang relasi kita atau seorang laki-laki di mana kita mendapatkan serpihan kasih sayangnya. 

    Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis menampilkan potret nyata dan riil yang menggariskan ajaran-ajaran Al-Qur'an dalam fenomena yang berdenyut seiring hidup itu sendiri. Dan banyak manusia yang melihat kebenaran melalui kenyataan riil secara lebih gamblang daripada melalui pembelajaran-pembelajaran yang ala kadarnya. Oleh karena itu, seseorang yang lurus kadang-kadang perilakunya lebih berpengaruh bagi orang lain, daripada pengaruh ucapannya.

    0 komentar:

    Posting Komentar