Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

wibiya widget

My Blog List

flag counter

daftar menu

Loading...

twiter

Recent Comments

google seacrh


  • Web
  • alwafaalmuttaqiin
  • google translite


    clock

    Voting

    My Ballot Box
    Bagaimana Menurutmu blog ku ni ?







    wibiya widget

    Rabu, 28 Desember 2011

    perilaku kognitif: perhatian,pengamatan dan fantasi

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Perilaku kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berfikir tentang suatu informasi.
    Dalam makalah ini akan membahas tentang psikologi kognitif. Berikut adalah beberapa bagian dari psikologi kognitif, yaitu perhatian, pengamatan dan fantasi.

    1.2 Batasan Masalah
    Batasan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
    1. Apa pengertian, macam-macam, syarat dan faktor yang mempengaruhi perhatian ?
    2. Apa saja aspek-aspek dan modalitas pengamatan ?
    3. Apa pengertian, klasifikasi, nilai-nilai praktis , nilai-ilai fantasi dalam pendidikan, manfaat dan bahaya fantasi ?

    1.3 Tujuan Masalah
    Tujuan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
    1. Untuk mengetahui pengertian perhatian, macam-macam, syarat dan faktor yang mempengaruhi perhatian
    2. Untuk mengetahu aspek-aspek dan modalitas pengamatan
    3. Untuk mengetahui pengertian fantasi, klasifikasi, nilai-nilai praktis , nilai-ilai fantasi dalam pendidikan, manfaat dan bahaya fantasi
    4. Sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan












    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1 Perhatian

    a. Pengertian Perhatian
    Perhatian berhubungan erat dengan kesadaran jiwa terhadap suatu obyek yang direaksi pada sesuatu waktu. Perhatian adalah cara menggerakkan bentuk umum cara bergaulnya jiwa dengan bahan-bahan dalam medan tingkah laku.
    Kata perhatian tidaklah selalu digunakan dalam arti yang sama. Beberapa contoh dapat menjelaskan hal ini :
    a. Dia sedang memperhatikan contoh yang diberikan oleh gurunya.
    b. Dengan penuh perhatian dia mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen yang baru itu.
    Kedua contoh di atas itu mempergunakan kata perhatian. Arti kata tersebut, baik dalam masyarakat dalam hidup sehari-hari maupun dalam bidang psikologi kira-kira sama. Karena itulah maka definisi mengenai perhatian itu yang diberikan oleh para ahli psikologi juga dua macam yaitu :
    1. Perhatian adalah pemusatan tenaga/kekuatan jiwa/psikis yang tertuju kepada suatu obyek.
    2. Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan.

    2. Macam-Macam Perhatian
    untuk memudahkan persoalan, maka dalam mengemukakan perhatian ini dapat ditempuh dengan menggolong-golongkan perhatian tersebut menurut cara tertentu, yaitu sebagai berikut :
    a. Menurut cara kerjanya
    •Perhatian spontan : yaitu perhatian yang tidak sengaja atau tidak sekehendak subyek.
    •Perhatian refleksif : yaitu perhatian yang disengaja atau dikendak subyek.
    Contoh : pada suatu hari senin jam 08.00 para mahasiswa sedang asyik mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen baru (dengan perhatian yang disengaja). Tiba-tiba terdengarlah rebut-ribut di samping ruangan kuliah, sehingga para mahasiswa menengok (dengan perhatian yang tidak disengaja) untuk mengetahui apakah yang terjadi.
    b. Menurut intensitasnya
    •Perhatian intensif : yaitu perhatian yang banyak dikuatkan oleh banyaknya rangsang atau keadaan yang menyertai aktivitas atau pengalaman batin.
    •Perhatian tidak intensif : yaitu perhatian yang kurang diperkuat oleh rangsangan atau beberapa keadaan yang menyertai aktivitas atau pengalaman batin.
    Makin banyak kesadaran yang menyertai suatu aktivitas atau pengalaman batin berarti makin intensiflah perhatiannya. Dan makin intensif perhatian yang menyertai suatu aktivitas akan makin sukseslah aktivitas itu.
    c. Menurut luasnya obyek yang dikena perhatian
    •Perhatian terpusat : yaitu perhatian yang tertuju kepada lingkup obyek yang sangat terbatas.
    Contoh : seorang tukang bengkel yang sedang memperbaiki sebuah kendaraan.
    •Perhatian terpencar : yaitu perhatian yang pada suatu saat tertuju kepada lingkup obyek yang luas atau tertuju kepada bermacam-macam objek.
    Contoh : seorang sopir yang sedang mengemudikan mobil, yang pada suatu saat perhatiannya dapat tertuju kepasa macam-macam obyek, seperti misalnya kendaraan lalu lintas, tanda-tanda lalu lintas, alat-alat yang ada dalam mobil yang sedang dikemudikan dan lain-lain.

    3. Hal-Hal yang Menarik Perhatian
    Hal-hal yang menarik perhatian dapat dipandang dari 3 segi, yaitu :
    a. Segi obyek : Hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteknya, atau hal yang lain dari lain-lainnya.
    Contohnya : warna benda yang lain dari warna benda-benda disekitarnya, hal yang mendadak dating atau hal yang lenyap dalam tiba-tiba (misalnya suara berisik di malam yang tenang, dosen yang tiba-tiba berhenti bicara, dan sebagainya)
    b. Segi Subyek : hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi subyek.
    Contohnya : hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subyek (misalnya pembicaraan mengenai Unila bagi alumni Unila), hal yang bersangkut paut dengan kegemaran (misalnya pertandingan bulu tangkis dagi penggemar bulu tangkis).
    c. Segi Komunikator : komunikator yang membawa subyek ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya.
    Contohnya : guru/komunikator memberikan pelayanan atau perhatian khusus kepada subyek.
    Adapun macam-macam perhatian yang tepat dilakukan dalam belajar yaitu :
    a. Perhatian intensif
    b. Perhatian yang disengaja
    c. Perhatian spontan.

    4. Syarat-Syarat agar Perhatian Mendapat Manfaat
    a. Inhibisi : yaitu pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan, atau menghalang-halangi masuk ke dalam lingkungan kesadaran.
    b. Appersepsi : yaitu pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk tanggapan, pengertian dan sebagainya yang telah dimiliki dan bersesuaian dengan obyek pengertian.
    c. Adaptasi : yaitu adanya penyesuaian diri antara subyek dan obyek.

    5. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Perhatian
    a. Pembawaan
    Adanya pembawaan tertentu yang berhubungan dengan obyek yang direaksi, maka sedikit atau banya akan timbul perhatian terhadap obyek tertentu.
    b. Latihan dan Kebiasaan
    Meskipun tidak ada bakat pembawaan tentang suatu bidang, tetapi karena hasil daripada latihan dan kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang tersebut. Misalnya, Deni sejak kecil hidup dikalangan seni musik, walaupun dia tidak mempunyai pembawaan tentang seni musik, tapi karena dia banyak berkenalan dengan suasana “kemusikan” dan sering berlatih musik, maka perhatiannya terhadap seni musik menjadi ada.
    c. Kebutuhan
    Adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap obyek tersebut. Misalnya kita sedang membutuhkan suatu pita ungu dan sangat sulit sekali mencarinya, maka kita pun pasti akan memberikan perhatian lebih bila mendengar tentang keberadaan pita ungu tersebut.



    d. Kewajiban
    Di dalam kewajiban terkandung tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan. Misalnya demi terlaksananya suatu tugas, maka apa yang menjadi kewajibannya akan dijalankan dengan penuh perhatian.
    e. Keadaan Jasmani
    Sehat tidaknya jasmani, akan mempengaruhi perhatian kita terhadap suatu obyek. Misalnya, jasmani kita dalam keadaan lelah dan kurang sehat, lalu kita harus mengerjakan banyak tugas, maka kemungkinan besar perhatian kita akan banyak terganggu oleh kondisi jasmani kita itu.
    f. Suasana Jiwa
    Keadaan batin, perasaan, fantasi, pikiran, dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatian kita, mungkin dapat membantu atau juga menghambat. Misalnya apabila kita sedang bahagia, maka kita akan senang dan memperhatikan kuliah yang ada. Namun apabila perasaan kita sedang kesal atau sedih, maka perhatian kita tidak akan terfokus pada kuliah tersebut.
    g. Suasana di sekitar
    Adanya berbagai macam keadaan di sekitar kita, seperti kegaduhan, temperature, social ekonomi, keindahan dan lain-lain dapat mempengaruhi perhatian kita.
    h. Kuat tidaknya perangsang dari obyek itu sendiri
    Berapa kuatnya perangsang yang bersangkutan dengan obyek perhatian sangat mempengaruhi perhatian kita. Bila obyek itu memberikan perangsang yang kuat, kemungkinan perhatian kita terhadap obyek itu cukup besar, dan sebaliknya.

    2.2 PENGAMATAN
    Manusia dapat mengenal lingkungan fisik yang nyata, baik dalam dirinya sendiri maupun diluar dirinya dengan menggunakan organ-organ inderanya. Pengamatan merupakan fungsi sensori yang memungkinkan seseorang menangkap stimuli dari dunia nyata sebagai bahan yang teramati. Obyek pengamatan memiliki sifat-sifat keinginan, kesendirian, lokalitas dan bermateri.
    Aspek-aspek untuk dapat menggambarkan dunia pengamatan yang berupa sudut-sudut tinjauan adalah sebagai berikut ;



    a. Sudut tinjauan ruang
    b. Menurut sudut pandang ruang ini, dunia pengamatan dilukiskan dalam pengertian-pengertian : atas-bawah, kiri-kanan, jauh-dekat, tinggi-rendah, dan sebagainya.
    b. Sudut tinjauan waktu
    Menurut sudut pandang ini, dunia pengamatan dilukiskan dengan pengertian-pengertian : masa lampau, kini dan masa yang akan dating dalam berbagai variasinya.
    c. Sudut tinjauan Gestalt (konteks keseluruhan)
    Suatu Gestalt adalah suatu yang merupakan kebulatan dan cepat berdiri sendiri lepas dari yang lain, misalnya rumah, orang, meja, kursi, gambar dan sebagainya.
    d. Sudut tinjauan arti
    Obyek-obyek yang kita amati kita beri arti atau kita amati menurut artinya bagi kita. Misalnya bunyi bedug yang dimainkan anak-anak dengan kayu akan sangat berbeda artinya dengan bunyi bedug yang ditabuh di masjid.
    Orang telah lazim membedakan lima macam alat indera menurut lima macam modalitas pengamatan, yakni :

    1. Penglihatan
    Ada 3 macam penglihatan, yaitu :
    a. . Penglihatan terhadap bentuk
    Yaitu penglihatan terhadap obyek yang berdimensi dua. Ahli-ahli psikologi Gestalt (terutama mazhab berlin) telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan bentuk, dan akhirnya mereka menemukan bahwa obyek-obyek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-Gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Khusus dalam melihat obyek bagian dan obyek keseluruhan, ini merupakan cara melihat Gestalt yang dapat memakai hukum-hukum Gestalt meliputi :
    1. Hukum keterdekatan (yang terdekat merupakan Gestalt)
    2. Hukum ketertutupan (yang tertutup merupakan Gestalt)
    3. Hukum kesamaan (yang sama merupakan Gestalt)
    b. Penglihatan terhadap warna
    Yaitu penglihatan terhadap obyek psikis dari warna. Masalah melihat warna (penglihatan warna) telah mendapat penelitian secara meluas dan mendalam, terutama segi-sgi yang bersifat fisis dan fisiologis. Didalam hal ini hanya dikemukakan nilai psikologisnya saja, menyangkut nilai-nilai psikologis dari warna yaitu meliputi :
    1. Nilai efektif warna
    Contohnya, dirumah-rumah tidak mungkin di cat dengan warna-warna mencolok dan bercampur, melainkan hanya satu atau dua warna saja, itupun dengan warna yang sejuk. Begitu juga dengan warna-warna yang digunakan untuk kamar di rumah sakit. Hal itu karena warna-warna tersebut sangat mempengaruhi tingkah laku penghuni nya. Masing-masing warna itu mempunyai nada yang membentuk medan tingkah laku, memberi corak kepada perbuatan atau reaksi orang.
    2. Nilai lambang atau simbolis dari warna
    Warna itu mempunyai sifat-sifat potensial yang dapat memberi kesan tertentu kepada seseorang. Misalnya :
    •Warna hitam melambangkan kegelapan, kesedihan.
    •Warna putih melambangkan kesucian.
    •Warna merah melambangkan sifat dominan, berani.
    •Warna hijau melambangkan kesegaran, ketenangan.
    c. Penglihatan terhadap dalam
    Yaitu penglihatan terhadap obyek yang berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting di sini adalah konstansi besar, misalnya telapak tangan yang kita tempatkan dalam jarak 20 cm dan 40 cm dari mata kita lihat sebagai sama besarnya, seorang yang datang menghampiri kita tidak kita lihat semakin besar, melainkan hanya semakin dekat. Hal ini disebabkan karena :
    1. Obyek yang kita hadapi selalu dilihat dalam konteks sistemnya
    2. Proporsi atau perbandingan benda-benda satu sama lain serta terhadap tempatnya adalah sama

    2. Pendengaran
    Mendengar atau mendengarkan adalah menangkap atau menerima bunyi-bunyi (suara) melalui indera pendengaran. Pendengaran dan suara itu memelihara komunikasi vocal antara makhluk yang satu dengan lainnya. Bunyi itu dapat berfungsi dua macam, yaitu :
    •Sebagai tanda (signal)
    Misalnya, kita menghadapi teriakan-teriakan karena ketakutan, terkejut, kagum dan sebagainya.
    •Sebagai lambang
    Misalnya, kita menghadapi bahasa dalam suatu komunikasi.
    Bunyi atau suara itu dapat digolongkan atas dua cara :
    a. Berdasarkan atas keteraturan, dibedakan :
    1. gemeristik
    2. Nada
    b. Nada itu bisa dibedakan atas dasar :
    1. Tinggi rendahnya, yang tergantung kepada besar kecilnya frekuensi.
    2. Intensitasnya, yang tergantung kepada amplitudonya.
    3. Timbrenya, yang tergantung kepada kombinasi bermacam-macam frekuensi dalam tinggi rendahnya suara.

    3. Perabaan
    Mengandung dua pengertian yaitu ;
    a. Perabaan sebagai perbuatan aktif yang juga mencakup indra keseimbangan atau kenestesi,
    b. Perabaan sebagai pengalaman secara pasif yang juga mencakup beberapa indera untuk sentuh dan tekanan, pengamatan panas, pengamatan dingin, pengamatan sakit, dan indera vibrasi.
    Perabaan menggunakan fungsi kulit badan. Pada kulit kita terdapat dua macam titik kepekaan, yaitu titik tekanan dan titik sakit. Perbedaan tekanan pada kulit disebabkan karena adanya perbedaan daya penerapan tekanan yang disebut nilai ambang pada tiap-tiap bagian kulit badan.

    4. Pembauan (Penciuman)
    Membau atau mencium adalah menangkap obyek yang berupa bau-bauan dengan menggunakan hidung sebagai alat pembau. Kuat dan lemahnya penangkapan obyek pembauan sangat tergantunng kepada dua hal, yaitu :
    1. Kuat lemahnya rangsang/kualitas obyek pembauan.
    Misalnya, bau bangkai atau wangi parfum yang berlebihan pasti akan menimbulkan bau yang kuat di hidung kita.
    2. Kepekaan fungsi saraf pada hidung.
    Misalnya, pada saat hidung kita sedang flu atau pilek, tentu saja kita pasti akan kurang mencium bau-bau yang ada disekitar kita.
    5. Pencecapan
    Mengecap adalah menangkap obyek yang berupa kualitas rasa benda atau sesuatu dengan menggunakan lidah sebagai alat pencecap. Dalam kehidupan sehari-hari, variasi rasa cecapan itu dibedakan menjadi banyak sekali, akan tetapi indera pencecap terutama hanya peka terhadap empat macam rasa pokok, yaitu :
    •Rasa manis, yang peka pada bagian ujung lidah.
    •Rasa asam, yang peka pada tepi lidah bagian depan.
    •Rasa asin, yang peka pada tepi lidah bagian belakang.
    •Rasa pahit, yang peka pada bagian pangkal lidah.
    Dengan lima macam modalitas tersebut (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pencecapan) pengamatan kita bekerja. Pengamatan adalah berfungsi primer, sebab dapat dikatakan bahwa pengamatan merupakan pintu gerbang bagi masuknya setiap stimuli, ide, atau pengaruh yang berasal dari luar diri.

    2.3 FANTASI
    1. Pengertian Fantasi
    Fantasi didefinisikan sebagai daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada, dan tanggapan yang baru itu tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada. Fantasi berorientasi dalam alam imajinair, melampau dunia riil/nyata.
    2. Klasifikasi Fantasi
    a. Fantasi Disadari
    Adalah fantasi yang terjadi dengan disengaja, dan ada usaha dari subjek untuk masuk ke dunia imajinair. Misal pelukis yang melukis imajinasinya, tukan pahat yang membuat patung seperti imajinasi yang dia inginkan, dan lain-lain.
    b. Fantasi Tak Disadari
    Adalah fantasi yang terjadi dengan tidak disengaja, misalnya seseorang menyampaikan berita yang tidak benar tetapi sebenarnya dia tidak bermaksud untuk berdusta. Hal yang demikian itu banyak terjadi pada anak-anak (dusta khayal, dusta semu). Misalnya seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai keadaan senyatanya, sekalipun ia tidak ada maksud berbohong.
    Fantasi sengaja maupun tidak sama-sama bersifat mengabstrasikan (ada bagian-bagian yang dihilangkan), misal angan-angan tentang lapangan tanpa rumput, maka tercipta fantasi padang pasir, mendeterminasikan (berfantasi dengan skema yang sudah ada, tetapi diisi denga gambaran lain), misal gambar telaga yang diperbesar maka terciptalah fantasi lautan, dan mengkombinasikan (menggabungkan tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain), misal gambaran kepala gajah digabungkan dengan badan manusia maka terciptalah fantasi ganesha. Ketiga sifat fantasi ini semua membentuk gambaran baru. Karena itu kegiatan pembelajaran hendaknya berusaha mengembangkan fantasi anak secara sehat karena akan mengembangkan intelektualnya menjadi lebih bermakna dan mampu mententramkan suasana bathinya.
    Menurut jenisnya, fantasi dibagi menjadi 2 yaitu :
    a. Fantasi Terpimpin
    Yaitu fantasi yang mengikuti fantasi orang lain. Misalnya murid mendengarkan cerita dari guru atau membaca cerita, dan lain-lain.
    b. Fantasi Mencipta
    Yaitu fantasi yang menciptakan tanggapan-tanggapan yang benar-benar baru. Misalnya pengarang cerita, orang yang membuat alat permainan, dan lain-lain.

    3. Nilai Praktis Fantasi
    a. Memungkinkan orang menempatkan diri dalam hidup kribadian orang lain, sehingga dapat memahami sesama manusia.
    b. Fantasi memungkinkan orang untuk menyelami sifat-sifat kemanusiaan pada umumnya.
    c. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari ruang dan waktu.
    d. Memungkinkan orang lain untuk melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi, melupakan kegagalan di masa lalu.
    e. Memungkinkan orang untuk menyelesaikan konflik riil secara imajinair.
    f. Memungkinkan manusi membentuk masa depan yang ideal dan berusaha merealisasikannya.

    4. Nilai-nilai Fantasi dalam Pendidikan
    a. Dapat digunakan dalam pelajaran sejarah, ilmu bumi, ilmu alam, dan sebagainya.
    b. Dengan memahami fantasi kita tidak akan lekas memberikan hukuman kepada anak didik.
    c. Dapat membantu atau mempengaruhi watak anak didik (fantasi terpimpin).
    d. Dengan alat-alat pelajaran/pengajaran untuk dapat mengembangkan fantasi anak didik secara luas dan leluasa.

    5. Kegunaan dan Bahaya Fantasi
    Kegunaan fantasi dalam kehidupan :
    a. Dengan fantasi para seniman dapat menciptakan sesuatu yang baru kita nikmati
    b. Menimbulkan simpati kepada sesama manusia.
    c. Dapat mengambil kemanfaatan (inti) sejarah.
    d. Dapat merencanakan hidup kita di hari kemudian kelak.
    e. Dapat merintangi dan mengurangi kesedihan kita

    6. Bahaya fantasi :

    a. Jika fantasi itu terjadi berlebih-lebih pada seseorang akan terjadi keputusan dalam lamunan.
    b. Karena kita dikuasai fantasi akan timbul rasa berdosa.
    c. Menimbulkan fantasi yang jauh dan liar, terutama akibat fantasi tanpa pimpinan



    BAB III
    KESIMPULAN
    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pendidik harus senantiasa benar-benar memahami ciri, sifat dan karakter peserta didiknya, yaitu dengan cara menguasai semua kaidah psikologis pendidikan, baik itu yang bersifat teoritis maupun praktis. Karena pada dasarnya proses pendidikan itu sendiri tidak hanya sekedar pola ajaran dan latihan.
    2.1. Perhatian
    Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
    Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
    2.2. Pengamatan
    Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
    Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
    Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
    2.3 Fantasi
    Fantasi jug memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Dengan fantasi manusia bisa merencanakan kehidupan yang ingin dijalaninya kelak. Dengan fantasi, manusia juga dapat menciptakan sesuatu sesuai dengan apa yang difantasikannya.
    Selain itu fantasi juga dapat berakibat buruk jika berlebihan yang dapat menyebabkan seseorang terlalu larut dalam dunia fantasinya sendiri, menjadi putus asa dan lain sebagainya.

    Daftar Pustaka
    • Ahmadi, Abu. 1992. Psikologi Umum. Rineka Cipta : Jakarta
    Soemanto, Wasty, Drs., M.Pd. 1998. Psikologi Pendidikan. Malang: Rineka Cipta
    • Ahmadi, Abu, Drs., H. 1991. Psikologi Umum. Semarang: Rineka Cipta
    • Suryabrata, Sumadi, Drs., BA., MA., Ed.s, Ph.D. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

    0 komentar:

    Posting Komentar